Rabu, 02 Maret 2011

MATERI PELATIHAN KADER


MATERI PELATIHAN KADER
IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA (IPNU)
IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA (IPPNU)

A.    Latar Belakang Berdirinya IPNU dan IPPNU

Faktor yang melatar belakangi berdirinya IPNU-IPPNU
1.      Faktor Aqidah
Karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam Ala Ahlusunnah Wal Jama’ah
2.      Faktor Pendidikan
Karena pendidikan merupakan media yang efektif untuk melakukan pengkaderan, sehingga kader-kader muda terdidik dan terarah untuk menciptakan kaderyang professional. Pelajar memiliki usia, pemahaman dan latar pendidikan yang relatif sama, sehingga akan mudah memberikan sebuah informasi atau pelajaran

B.     Tujuan IPNU-IPPNU lahir ( 5 M )

1.      Mempersatukan antar pelajar umum dan agama
2.      Mengumpulkan anak-anak NU
3.      Mengembangkan pengetahuan dan umum
4.      Mempersiapkan pemimpin NU dan bangsa di masa datang
5.      Mengembangkan syari’at Islam menurut faham ASWAJA

C.    Organisasi Yang Lahir Sebelum IPNU

1.      Tsamrotul Mustafidin, lahir di Surabaya pada tanggal 11 Oktober 1936
2.      Persatuan Murid Nahdlotul Oelama (PAMNO), lahir pada tahun 1936
3.      Ikatan Siswa Mubalighin Nahdlotul Oelama (IKSIMNO), lahir pada tahun 1952 di Semarang
4.      Persatuan Pelajar Nahdlotul Oelama (PERPENO), lahir di Kediri
5.      Ikatan Pelajar Nahdlotul Oelama (IPINO)
6.      Ikatan Pelajar Nahdlotul Oelama (IPNO), di Surakarta

D.    Sejarah Singkat Lahirnya IPNU-IPPNU

Pada dasarnya Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlotul Ulama didirikan sebagai organisasi kesiswaan dan kesantrian. Pada awalnya berdiri pada tahun 1954 dan tahun 1955, ia di masukkan dalam rangka menyatukan gerakan langkah dan dinamisasi kaum terpelajar di kalangan nahdliyin.
Menurut sejarawan dalam memahami peristiwa sejarah (Historical Moment) ada tiga aspek yang harus diperhatikan, yaitu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Ketika Kongres LP Ma’arif di Semarang tanggal 20 Jumadil Akhir 1337 atau tanggal 24 Februari 1954 M. Tholhah Mansyur mengusulkan dibentuknya ikatan bagi pelajar NU, yang mana anggotanya adalah putra NU dan usulan tersebut diterima oleh forum, detik itu pula resmi IPNU dilahirkan di kota Semarang.
Seorang Mahasiswa UGM, Umroh Mahfudhoh  mengadakan musyawarah di pondok pesantren Muallimat Solo untuk mengusahakan adanya pembentukan wadah bagi putrid-putri NU.
Pada saat diadakan Konggres IPNU I di Malang Jawa Timur pada tanggal 28 February – 5 Maret 1955 yang di pimpin oleh Presiden RI (Ir. Soekarno), diusulkan dibentuknya wadah putrid-putri Nahdlotul Ulama, ternyata usulan tersebut diterima oleh forum, maka pada tanggal 8 Rajab 1374 atau 2 Maret 1955 IPPNU resmi didirikan dengan kepanjangan Ikatan Putri-Putri Nahdlotul Ulama.
Dalam perjalanan IPNU-IPPNU mengalami tiga fase perubahan , yang pertama IPNU lahir dari basis pelajar dan santri, kedua IPNU-IPPNU berbasis umum, Ketiga IPNU-IPPNU kembali pada habitatnya. Ketika fase kedua IPNU-IPPNU satu persoalan yang cukup besar dimana IPNU-IPPNU hampir kehilangan jati dirinya sebagai kader. Dengan adanya tekanan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru denga strategi penerapan UU nomor 8 tahun 1985, yaitu tentang idiologi ormas yang menjadikan pancasila sebagai satu-satunya asas, serta dipolitisasi (penghapusan) dengan mewadahi semua OKP dalam KNPI.
Selain itu, dengan surat keputusan bersama (SKB) tiga mentri, yang salah satu poinya berisi pelarangan organisasi kesiswaan selain OSIS dan Pramuka.
Dengan demikian akhirnya IPNU-IPPNU berbenah diri dan mengubah orientasi dan garis perjuangan IPNU-IPPNU pasca diberlakukanya Undang-Undangtersebut.
Objectivitas diatas akhirnya teraktualisasi dan terformulasi dalam keputusan Konggres IPNU-IPPNU ke X tahun1988 di Jombang Jawa Timur. Huruf “P”, semula pelajar berubah menjadi “putra’ (IPNU), Putri-putri (IPPNU). Hal ini menjadikan segmentasi IPNU-IPPNU lebih luas.
Format baru pasca Konggres X di Jombang, IPNU-IPPNu mengalami masa konsolidasi ulang dalam bingkai pergulatan organisasi dan orientasi social, disadari maupun tidak perluasan orientasi ternyata berdampak kurang baik terhadap kinerja dan aktifitas IPNU-IPPNU secara institusional maupun secara operasional. Secara institusional diartikan bahwa IPNUdapat dipandang sebagai organisasi kepemudaan di lingkungan NU. Secara operasional dilapangan menyebabkan tarik menarik dalam perebutan segmen anggota, bidang garapan, wacana. Karena dipandang tidak efektif. Konggres IPNU 2000 di Makasar Sulawesi Selatan mengeluarkan deklarasi Makasar lewat Rekomendasi Komisi A (organisasi) mencetuskan keputusan
·         Mengembalikan IPNU pada visi kepelajaran, sebagaimana tujuan awal
·         Menumbuh kembangkan IPNU pada basis perjuangan yaitu sekolah dan pondok pesantren.
·         Mengembalikan CORP BRIGADE PEMBANGUNAN (CBP) sebagai kelompok kedisiplinan, kepanduan dan kepecinta alaman sebagaimana di sekolah-sekolah.(isi deklarasi Makasar, 24 Maret 2000)

Fase ketiga merupakan implementasi dari isi deklarasi Makasar tahun 2000, tepatnya pada Konggres XIV di Sokolilo Surabaya pada tanggal 18-21 Juni 2003 IPNU-IPPNU kembali kehabitatnya ?
Mengembalikan IPNU-IPPNU ke basis awal pelajar dan santri sebagai komunitas ilmu pengetahuan, merupakan salah satu bentuk usaha dalam rangka pembenahan diri untuk menata organisasi. Hal ini karena dengan menggarap kalangan pelajar, diharapkan akan lebih cepat dan efektif dalam memberikan pemahaman terhadap konsep dan ajaran NU, sehingga akan melahirkan kader-kader professional sesuai bidangnya masing-masing.

E.     Dengan Segmentasi Pelajar ini, pengkaderan akan cukup efektif, karena beberapa hal

1.      Pelajar rata-rata belum mempunyai beban keluarga karena semua masih ditopang oleh orang tua. Dengan kondisi demikian akan lebih konsentrasi dan serius berkaitan dengan tugas-tugas sekolah dan organisasi.
2.      Pelajar memiliki ikatan administrasi dengan institusi

F.     Tokoh-tokoh  pendiri IPNU

Ø  Tholhah Mansyur ( Mahasiswa UGM )
Ø  Ismail (Mahasiswa IAIN Kalijogo)
Ø  Mahbub Djunaidi (Mahasiswa UI)
Ø  M. Sofyan Kholil
Ø  A. Gani Farida
Ø  M. Uda
Ø  M. Sahal Makmun (Mahasiswa UI)
Ø  Abdurrohman Wahid (Jawa Timur)
Ø  Ilyas Ru’at (Jawa Barat)

G.    Sifat IPNU

Ø  Keterpelajaran
Ø  Kekeluargaan
Ø  Kekaderan
Ø  Kemasyarakatan
Ø  Keagamaan

H.    Fungsi IPNU

Ø  Wadah berhimpun, untuk melanjutkan semangat jiwa dan nilai-nilai nahdliyah
Ø  Wadah komunikasi untuk menggalang ukhuwah islamiyah
Ø  Wadah aktualitas dalam pelaksanaan dan pengembangan syari’at islam
Ø  Wadah kaderisasi untuk mempersiapkan kader-kader bangsa.

I.       5 Lima Pedoman (prinsip dasar) yang harus diperhatikan dalam pengembangan IPNU

      (Al- Mabadi Al-Khomsah)

1. Asshiqu
Jujur/ keberanian, kesungguhan dan keterbukaan
2. Al amanah
      Dapat dipercaya, setia dan tepat janji
3. Al adalah
      Adil
4. Ta’awun           
Tolong menolong, setia kawan, gotong royong
5. Istiqomah         
Tetap, berkesinambungan dan berkelanjutan.

J.      Arti Lambang IPNU-IPPNU

Arti Lambang IPNU

-          Warna Hijau artinya kebenaran dan kesuburan
-          Warna putih mengandung makna kesucian dan kebersihan
-          Warna kuning mengandung makna Hikmah yang tinggi / kejayaan
-          Lingkaran  mengandung makna Perjuangan terus menerus

-          Sembilan bintang mengandung makna Keluarga Nahdlotul Ulama yang diartikan satu bintang besar paling atas Nabi Muhammad SAW, empat bintang sebelah kanan menunjukkan empat sahabat dan empat bintang di sebelah kiri menunjukkan empat madzhab
-          Dua kitab  mengandung makna Al Qur’an dan hadist
-          Dua bulu menyilang mengandung makna Aktif menuntut ilmu agama dan pengetahuan umum
-          Tiga titik diantara tulisan IPNUmengandung makna Iman Islam dan Ikhsan
-          Tanda garis disebelah tulisan IPNU kanan dan kiri, mengandung arti rukun iman

K.     Visi IPNU

Terwujudnya pelajar yang bertqwa kepada Allah SWT, berakhlaqul karimah, menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi, memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap tatanan masyarakat yang berkeadilan dan demokratis atas dasar ajaran Islam Ahlu Sunnah Waljama’ah

L.     Misi IPNU

Pembinaan dan pemberdayaan terhadap para pelajar dan santri, serta mempengaruhi pihak-pihak terkait dengan pembinaan dan pemberdayaan para pelajar dan santri putra.



















Mencari Identitas IPNU

Sebagai Organisasi Pelajar

W
acana dan perdebatan seputar Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama (IPNU) back to basic mencapai titik klimaks. Pada saat yang sama, muncul kegelisahan baru, oleh karena Konggres XIV IPNU di Surabaya pada 18-21 Juni 2003 yang berhasil mengembalikan IPNU sebagai organisasi pelajar, tidak dibarengi konseptualisasi mendasar. Ibaratnya kepemimpinan yang baru di beri mandat yang kosong. Makna pelajar belum diintrodusir ke dalam system integrative visi, orientasi dan citra diri, kecuali semangat dan kemauan menuntaskan problem posisi IPNU dalam konteks NU sebagai organisasi kader. Tentu, bukan berarti hal itu merupakan tonggak sejarah premature, melainkan ruang dan waktuyang memaksa IPNU untuk segara berbenah diri, setelah sekian lama berjalan mengarungi pencarian identitas, tepatnya sejak tahun 1988.
Bila ditarik dari makna sejarah, IPNU sebetulnya sedang ingin mengembalikan prototype intelektualisme-relegius sebagai jati dirinya, yang diharapkan mampu membentuk subkultur tersendiri dan memiliki bobot kualitatif dalam tradisi berpikir. Bagi NU, keberadaannya sering dianggap sebagai rule axpection (harapan peran), terutama dalam suplai kader militan. Lebih jauh lagi, secara sosio-kultural, IPNU kemudian menemptkan diri sebagai kelompokkelas menengah baru, yang berposisi pada salah satu dari tiga kategori (dari spirit nilai-nilai aswaja). Pertama pengembang nilai-nilai. Tradisi yang dibangun adalah, mengembangkan nilai-nilai, yang kemudian memformulasi pemikiran pada persoalanyang melingkupinya, baik dalam tataran ide maupun realita. Kedua penerapan nilai-nilai, berupa aktifitas kerja nyata, sebagai bagian dari posisinya sebagai kadr dan refleksi kedalaman daya analisis. Ketiga pendukung nilai-nilai, dengan cara mempertahankan nilai ajaran, jangan sampai punah. Kelas menengah disini lebih dipahami sebagai kelompok pelajar yang notabene mempunyai tingkat pendidikan dan kapasitas intelektual tinggi. Sebab secara demografis, mayoritas anggota IPNU mulai dari cabang sampai dari pusat rata-rata berstatus mahasiswa, bahkan sarjana. Tentu saja pilihan kategori, sangat tergantung pada tingkat pendidikan anggota.
Makna pelajar secara substansi-fungsionalmemiliki karakteristik sebagai intelektual muda. Inilah yang oleh eisenstan (1986) disebut the man of ideas  yang lebih responsive terhadap permasalahan social, minimal dia memiliki kesadaran dirinya dimana ada ketersediaan ruang untuk mengekspresikan potensi yang dimiliki, tanpa ada sekat-sekat. Prasyarat yang dimiliki menghendaki keberanian untuk membongkar tradisi lama yang kurang baik, dan memformulasikan diskursus tenteng kekinian. Hal ini pada masa lalu, sama sekali tidak disentuh, oleh karena ada determinasi cultural yang kurang kondusif, terutama belum adanya identitas yang jelas. Rajutan segmentasinya pun masih gampang dan sering ambigu, terutama ketika diletakkan secara fungsional dengan GP. Ansor dan PMII. Namun demikian, menyandang predikat pelajar, mengandung konsekuensi-konsekuensi memudarnya trend-populis organisasi masa, yang dalam konteks politik kurang strategis.
Sebagai kelompok kelas menengah, di masyarakat kita terdapat dua jenis kaum intelektual. Yang pertama adalah golongan intelektual yang berorientasi pada policy (technocratic and policy oriented); dan kelompok kedua adalah intelektual yang berorientasi pada nilai (value intellectual oriented) kelompok pertama menempatkan kekuasaan sebagai bagian strategi perjuangan dalam melakukan enginnering terhadap kesedaran idiologis dan mengatur dalam budaya dan tradisi tertentu. Sementara golongan kedua biasanya berada diluar struktur. Sebagai man of analysis dan man of ideas, gerakanya biasanya menentang arus dengan melakukan counter-cultural, melawan budaya yang sudah mapan. Posisi yang terakhir ini, dalam rentang sejarah selalu dinamis dan strategis, walaupun agak puritan. Gerakan-gerakanya tidak pernah lapuk ditelan badai. Sekalipun dalam setting dan casting social-politik berbeda. Bagaimanakah dengan IPNU ?
Kalau direview, IPNU lahir karena cetusan segala aspirasi para pelajar dan satri dan hakikatnya merupakan pencerminan sikapuntuk senantiasa menjalin kebersamaan dalam mendukung dan menopang cita-cita besar dari tujuan Nahdlotul Ulama, yaitu terbentuknya manusia Indonesia yang berakhlak karimah, beriman dan menguasai ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan berkemanusiaan, kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara.
Di situlaqn sebenarnya secara obsesif, IPNU telah meletakkan dirinya sebagai watch dog (penjaga) cita-cita NU, sekalipun tidak bisa dinafikan sarat muatan politis (ketika itu NU menjadi partai politik). Cita-cita besar NU itu membutuhkan perangkat taktis yang bisa diterjemahkan melalui cara-cara persuasive dan adaptif dalam kelompok masyarakat tertentu, seperti pada generasi mudanya (baca: pelajar). Tentu saja pilihan yang harus diambil bagi IPNU adalah penguasaan sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan anggota dan kader. Mau tidak mau, trend dan modelnya lebih pada pendasaran dan penguatan basis fikir dan kemampuan intelektul. Langkah-langkah ini sebenarnya telah dimulai KH. Hasyim Asya’ari dan KH. Wahab Hasbulloh muda dengan kelompok diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar sebagai forum pencerahan. Isu-isu strategis persoalan kebangsaan, tak pernah luput dari bidikan mereka, bahkan konsep tentang kemerdekaan RI, pernah digagas pada tahun 1914, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Selain itu, tanggung jawab IPNU selanjutnya adalah pewaris dan pengembang nilai faham Ahlussunah wal jama’ah. Dan ini bisa dijadikan sebagai modal dan factor perekat untuk menyatukan semangat “ideologis”. Persoalan marketable atau tidak, sebenarnya terletak pada bagaimana memaknai Aswaja itu dalam konteks kekinian. Inilah yang oleh Prof. Said Aqil Sirodj sebagai manhajul fikr, yang memiliki relativitas nilai. Artinya kemudian, IPNU selayaknya tampil sebagai pewaris, pelaksanasekaligus pengembang nilai-nilai itu. Bagi sebagian warga nahdliyin, Aswaja sering dikonsepsikan sebagai system tata nilai yang baku secara normative, ia tidak bisa berkembang. Pada saat yang sama relatifitas Aswaja, memiliki potensi melemahkan militansi kader, terutama pada penataan kelembagaan dan kader. Hal ini tampak paradoksal. Terlepas dari itu, spirit Aswaja secara makro sangat menjanjikan, jika dilihat dari hokum mengenai perubahan social, yang oleh aliran Hegelianisme menganggap bahwa seseorang atau masyarakat digerakkan oleh nilai-nilai, sebab dengan nilai-nilai itulah seseorang biasa bergerak maju kearah yang lebih sempurna secara terus-menerus. Tinggal bagaimana nilai-nilai Aswaja itu disosialisasikan dan dikonsepsikan sebagi “Aswaja transformatif” sebagi respon terhadap gejala modernisasi social yang kemudian berakibat pada marjinalisasi social dan politik yang dialami masyarakat tertindas. Bagaimana kemudian Aswaja menjawab persoalan-persoalan itu, baik secara konsepstual nilai faham maupun rencana aksi-aksi social, seperti soal-sola pengurusan tanah, pengangguran, kemiskinan, demokratisasi dan keadilan social.

Kaderisasi
Pada penggalian potensi kader, elite IPNU harus melakukan proses adoptif, dengan menjaring semua potensi yang ada, sebagai starting point menjawab problem kepelajaran dan kemasyarakatan. Dulu, ada sindiran bahwa NU merupakan lumbung ilmu tetapi tidak bisa memasarkan. Sementara ‘orang lain’ tidak punya lumbung, tetapi punya menejemen pemasaran yang baik. Hal ini meniscayakan adanya diversifikasi ilmu untuk kepentingan penguatan basis di akar rumput. Dalam sebuah sistematisasi diskursus NU, selalu menyeruak kegelisahan bahkan ketidakberdayaan bersama oleh karena kurang  optimalnya manajemen fungsi-fungsi kelembagaan dan penataan-penataan kader. Maka, perlu dipertajam arah dan mainstrem gerakan, baik secara monolitik maupun sinergis. Meski demikian kendalanya berada ditubuh warga nahdliyin sendiri yang mamilikii perbedaan tafsir analisis persoalan dan perbedaan visi gerakan serta konstruksi perubahan. Dulu, NU selalu bergarak pada penguatan basis civil society, sekarang bergeser ke wilayah kekuasaan, sejak KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI. Jargon yang dipakai: Dengan semangat khittoh, NU tidak kemana-mana tetapi ada dimana-mana. Memang opportunity structure tidak selamanya jelek, namun peran dan kontribusi NU menjadi simplistic. Itulah pentingnya penebaran pluralitas kader disemua unit dan sector-sektor publik.
Membaca anatomi NU secara kultural memang teramat rumit variabelnya, terutama bila dilihat  dari latar belakang basis pendidikan, kedekatan denga kyai, kaderisasi yang diperoleh, kecenderungan factor politik dan pengalaman sejarah yang dialami. Perbedaan inilah yang kemudian menghasilkan ragamnya kecenderungan, baik visi perjuangannya maupun konstruksi strategi. Fenomena itulah bisa dijadikan titik kelemahan dan kelebihan. Kelemahanya terletak pada sulitnya melakukan konsolidasi organisasi secara massif, sesuai profesi dan wilayah kerja masing-masing. Hal itu tidak akan terjadi, bila kolektivitas kerja terbangun dan perbedaan dijadikan sebagai rahmah.
Sedang kelebihanya ada pada khazanah NU yang berdimensi lintas sektoral dengan pendekatan sinergis. Kalau demikian, barangkali NU pantas bicara soal mengatasi pengangguran, pemenuhan kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan petani dan lain sebagainya.
Dalam kerangka itu, IPNU harus bisa melakukan pencerahan system kaderisasi dan kosolidasi organisasi. Minimal dalam mencadra idealisasi kader NU. Idealisme harus mulai ditancapkan dilubuk hati. Landasan koseptual yang menjadi titik awal sebuah idealisme adalah sebuah organisasi pelajar adalah bahwa IPNU dituntut berfikir kritis, kreatif dan inovatif. Selanjutnya diharapkan bisa mencermati sebagai perspektif dan kecenderungan dari isu-isu yang muncul kepermukaan, baik yang berskala local maupun nasional. Kecermatan dalam mengambil sikap dan kritisme merupakan keniscayaan dari kader NU yang sekaligus kader bangsa. Bagaimanapun juga IPNU sebagai salah satu sub-sistem dari system dan totalitas masyarakat bangsa Indonesia senantiasa harus bersikap korektif dan proaktif dalam melihat posisi dirinya secara kritis ditengah-tengah masyarakt yang senantiasa mengalami perubahan. Dengan demikian kehadiran IPNU dapat menjadi factor positif dan dominan dalam setiap proses perubahan dan perkembangan masyarakt.. Visi yang harus dikedepankan adalah membangun learning society (masyarakat belajar) di kalanga pelajar, satri dan remaja NU yang senantiasa respon terhadap lingkungan dan memiliki komitment terhadap intelektualisme dan profesionalisme. Dalam perspektif demikian, IPNU merupakan wahana tumbuhnya kesadaran tanggung jawab moral akan dua hal yaitu, pengembang nilai-niali (spirit Aswaja) dan agen perubahan, Baik kultur, tradisi maupun struktur yang mendudukkan NU sebagai kepentingan bersama. Hal ini menuntut tiga syarat. Pertama, orientasi diarahkan nalar pengembangan intelektual yang obyektif dan rasional. Kedua, pendalaman wawasan keislaman dan NU. Ketiga, respon terhadap persoalan lingkungan, terutama pada focus kepentingan pelajar. Salah satu agenda besar IPNU adalah upaya melakukan pemberdayaan dan advokasi pelajar, sampai kemudian tumbuh percaya diri, kritis, inovatif terhadap persoalan dirinya maupun masyarakat. Tanpa menafikkan adanya kenyataan bahwa ada sebagian peljar kitan nakal, pelajar sampai hari ini masih menjadi komoditas isu, dan dipersepsikan sebagi kelompok yang suka tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang dan lain sebagainya, tanpa diliaht sebab-sebab potologi social secara komprehenship. Kenakaln remaja, masih menjadi tema ternd yang selalu mendapat perhatian publik, tanpa melihat sisi lain sebab-sebab pelajar ikut dari aksi penyakit masyarakat itu.
Secara internal, IPNU harus segera merespon dinamika keberagaman pelajar dan kecenderungan munculnya kelompok-kelompok dan rohis-rohis yang mulai menjamur disekolah-sekolah. Bagaimana IPNU secara kompetable mampu menggarap fenomena tersebut, dengan tawaran bingkai islam ala ahlussunah wal jama’ah. Ajaran Aswaja yang dikenal moderat, insklusif, konsisten, akan menjadi titik keunggulan, tentu sangat tergantung bagaimana metode dan pendekatan yang dipakai.

























ORGANISASI SEBAGAI SUATU  SISTEM

Handout Makesta
  1. Pengertian organisasi
  2. Jenis  organisasi
  3. Fungsi organisasi
  4. Management pengelolaan organisasi

A.    PENDAHULUAN
Organisasi merupakan wadah dan struktur serta proses kegiatan sekelompok orang yang bekerjasama atas dasar hubungan rasional dan formal menurut tatanan herarchi untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Kematangan pembentukan sikap mental manusia tertata dalam satu pengkaderan dan pembinaan yang di organisasi sehingga mampu menelurkan kader-kader yang kapabel.

Pandangan bahwa organisasi suatu system sesungguhnya bukanlah suatu hal yang baru. Kita semua sudah memahami bahwa dalam setiap organisasi selalu terdapat macam unsure yang satu dengan yang lain mempunyai kaitan yang sangat erat atau malahan mempunyai ketergantungan. Perubahan yang terjadi dalam satu unsure akan mempengaruhi dan sering menyebabkan perubahan pada unsure atau bagian yang lain.

Sebagai bentuk suatu system yang mempunyai unsure saling keterkaitan, organisasi merupakan suatu system yang terbuka. Orgnisasi memasukkan sumber energi dan lingkungan sekitarnya berupa modal, material, informasi, sumber tenaga manusiawi                     ( input ). Organisasi ibarat media atau tempat untuk mendidik serta manapak jati diri dalam rangka perubahan sikap secara universal. Hal itu bisa terwujud ketika berbagai unsure saling mendukung.



B.     PENGERTIAN ORGANISASI
1.      Menurut BPA UGM
Organisasi adalah suatu system kerjasama dari sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama

2.      Menurut Drs. Komarudin
Organisasi adalah pembagian kerja ke dalam kedudukan –kedudukan organisasi dalam suatu struktur kerjasama dan pengadaptasian dari struktur itu kepada orang-orang di dalam kelompok.
Dari rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa :
2.      Organisasi bukanlah tujuan, melainkan hanya alat untuk mencapai tujuan atau alat untuk melaksanakan tugas  pokok]
3.      Organisasi adalah wadah dan proses kerjasama sejumlah manusia yang terkait dalam hubungan formal
4.      Organisasi selalu terdapat dirangkai herarchi, artinya bahwa dalam suatu organisasi terdapat apa yang dinamakan atasan bawahan.

C. TUJUAN ORGANISASI
Tanpa adanya tujuan yang jelas organisasi dapat diumpamakan dengan sebuah kapal yang tidak mempunyai pelabuhan akhir dan yang akan ditujunya. Tujuan bagi suatu organisasi analog dengan pelabuhan akhir bagi sebuah kapal. Tujuan organisasi harus ditanamkan pada setiap orang  di dalam organisasi. Tujuan organisasi adalah
3.      koordinasi
4.       integrasi ( pembaharuan hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat )
5.      simplifikasi ( Penyederhanaan )
6.      Mekanisasi( cara kerja )

D. JENIS ORGANISASI
Menurut  Henry G. Hodges organisasi ditinjau dari wujudnya maka organisasi ada lima  Bentuk :
1.      Bentuk pyramid
      Dalam bagan bentuk  ini organisasi yang bersangkutan digambar menurut tingkat-tingkat pengawasan dari atas sampai bawah. Sifatnya sederhana mudah dibuat

2.      Bentuk horizontal
      Dilukiskan mendatar, saluran perintah dan tangggung jawab dilukiskan ke kiri ke kanan. Lazim digunakan dalam organisasi bentuk fungsional

3.      Bentuk vertical
      Yaitu dalam saluran perintah dan tanggungjawab dari atas ke bawah.

4.      Bentuk Lingkaran
      Bentuk lingkaran hanya untuk melukiskan struktur organisasi pada tingkat atas sekitar pucuk pimpinan, karena justru pada tingkat ataslah lebih sensitive.

5.      Bentuk Lukisan
      Bentuk yang dapat dibaca / dilihat dengan jelas oleh siapapun juga dan setiap lukisan akan berbicara sendiri tanpa kementar

E.  MANAGEMENT PENGELOLA  ORGANISASI
Pengembangan manajemen merupakan suatu  usaha perubahan berencana untuk meningkatkan efektifitas oraganisasi secara menyeluruh , dengan memperhatikan berbagai tuntutan lingkungannya, tetapi tidaklah identik dengan pengembangan organisasi. Management merupakan suatu alat pengembangan organisasi tetapi tetap tidak sama dengan pengembangan organisasi. Fungsi management adalah :
1.      Planning ( perencanaan )
Planning merupakan hal yang esensial harus dilakukan oleh seorang manager untuk menetukan apa yang harus dilakukan oleh semua petugas, kapan, siapa, dimana, kenapa  dan bagaimana melaksanakannya.



2.      Oganizing ( Pengoranisasian )
Pengelompokan kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan rencana dalam unit-unti kegiatan dan menentukan hubungan antara eksekutif dan para pekerja dan atau petugas

3.      Actuating ( Menggerakkan untuk bekerja )
Seorang manager menggerakkan kelompok secara efektif dan efisien ke arah pencapaian tujuan. Dengan cara membrikan intruksi, komunikasi, motivasi, perundingan-perundingan.
     
4.      Controlling ( Pengendalian )
Melihat serta memperhatikan bahwa hasil pelaksanaan itu sesuai dengan rencana, ini berhubungan dengan pembuatan standar, dasar pertimbangan orang-orang dalam membuat standard ini membandingkan antara hasil yang nyata dengan tindakan korektif yang diperlukan bila di dalam mencapai tujuan itu tidak sesuai dengan rencana.














     
DASAR-DASAR KEPEMIMPINAN

Pokok bahasan
  1. Pengertian kepemimpinan
  2. Macam-macam kepemimpinan
  3. Teori munculnya pemimpin di masyarakat

A.    PENGERTIAN PEMIMPIN
      Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrahman
Pemimpin adalah orang yang menggerakkan orang lain yang ada disekelilingnya untuk mengikuti langkah untuk mencapai tujuan.

Menurut Dr. Mr. S. Prayudi Atmosudirjo
Pemimpin adalah orang-orang yang mempengaruhi orang-orang lain agar orang-orang itu mau menjalankan apa yang dikehendakinya.

Sifat kepemimpinan dapat muncul karena beberapa hal, diantaranya :
a.       Keturunan
“ Bahwa orang yang dilahirkan menjadi pemimpin ini telah mempunyai bakat yang terdapat pada pribadinya, mentalnya, baik fisiknya. Dalam keadaan ini ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin dan kelak keturunannya akan timbul pula sebagai pemimpin”

b.      Kejiwaan
“ Bahwa bakat kepemimpinan seseorang ini dapat dibentuk sesuai dengan jiwa seseorang. Sehingga apabila ini diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup “
c.       Lingkungan
“ Bahwa pemimpin adalah hasil dari pada lingkungan “


B.     TIPOLOGI PEMIMPIN
1.     Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan yang berdasarkan kekuatan mutlak, sehingga keputusan ada ditangan pemimpin yang menganggap dirinya lebih mengetahui dalam segala hal. ( gambar segitiga )

2.     Kepemimpinan bebes atau liberal
Kepemimpinan dimana anggota kelompok diberi kebebasan dalam menentukan tujuan kelompok. Pemimpin bersifat pasif, tidak inisiatif dan sebagai penonton. ( gambar huruf Z )

3.     Kepemimpian demokratis
Kepemimpinan dinama pemimpin di dalam melakukan tugasnya melibatkan secara kolektif anggotanya, sehingga keputusan merupaka keputusan bersama (gambar lingkaran )

4.     Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan yang berdasarkan tradisi dan sejarah merupakan dasar hokum istimewa sang pemimpin, yaitu secara turun-temurun. ( Gambar bujur sangkar )

C.    FUNGSI PEMIMPIN
1.      Fungsi analisa
Seorang pemimpin harus mampu mengolah kebutuhan, masalah, tujuan program dan keadaa yang dipimpin.
2.      Fungsi pengarah
Seorang pemimpin dapat membagi tugas, tanggungjawab dan membimbing serta mengarahkan
3.      Fungsi pembentukan susunan
Seorang pemimpin dapat menyusun ketertiban, keamanan dan keterbukaan
4.      Fungsi pemeliharaan
Seorang pemimpin dapat memelihara suasana, semangat kerja, peningkatan serta  pengembangan usaha

D.    MUNCULNYA PEMIMPIN DI MASYARAKAT
Melalui pendekatan perilaku bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap atau bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap bertindak akan nampak dari cara melakukan sesuatu pekerjaan antara lain akan nampak dari cara memberikan perintah, cara memberikan tugas,  cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mencorong semangat bawahannya, cara memberikan bimbingan, cara menegakkan disiplin, cara mengawasi pekerjaan bawahan, cara meminta laporan dari bawahan, cara memimpin rapat, cara menegur kesalahan bawahan dan lain-lain.

Apbila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin menempuh dengan cara tegas, keras, sepihak, yang penting tugas selesai dengan baik, yang bersalah langsung dihukum, maka gaya kepemimpinan seperti itu cenderung dinamakan gaya pemimpin yang otoriter. Sebaliknya apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin menempuh dengan cara halus, simpatik, interaksi timbal balik, melakukan ajakan, menghargai pendapat orang lalin, memperhatikan perasaan, membinan hubungan serasi, maka gaya kepemimpinan ini cenderung dinamakan gaya pemimpin yang demokratis.

Dua macam pandangan tersebut menimbulkan adanya gaya kepemimpinan yang berbeda. Pandangan klasik lebih mengutamakan otoriter sedangkan modern lebih mengutamakan gaya demokratis.

E.     NILAI KEPEMIMPINAN
      Nilai kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
a.   Berpandangan jauh kedepan  ( forcasting )
Dalama penyusunan program kerja organisasi diperlukan ketajaman pandangan jauh ke masa yang akan datang tentang kemungkinan, sehingga tidak hanya puas keberhasilan yang lalu, dan mampu menganalisa keadaan.

b.  Bertindak dan bersikap bijaksana
Karena yang dihadapi dalam sebuah organisasi manusia dengan segala dinamikanya, maka dengan ini orang akan menerimanya dengan sukarela

c.   Berpengetahuan luas
Sebab berbagai masalah dan  problem organisasi sangat kompleks, sehingga wawasan keilmuan pengetahuan sangat diharapkan

d.  Bersikap adil
e.   Berpendirian teguh
Sehingga tidak mudah diombang-ambing situasi dan kondisi apapun yang dihadapi
f.   Berhati ikhlas
Tulus dalam mengabdi demi keberhasilan organisasi, tanpa pamrih, semata-mata[]














PROBLEM SOLVING

A.    PENDAHULUAN
Dari sejak lahir hinggga meninggal dunia, manusia pasti memerlukan bantuan atau kerjasama dengan orang lain. Karena manusia secara langsung atau tidak langsung manusia memerlukan hasil karya atau jasa-jasa orang banyak dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya mulai dari hal-hal yang kecil sampai dengan yang besar.

Dari kondisi seperti inilah manusia akan berarti hidupnya dan dapat disebut sebagai masyarakat setelah manusia-manusia berkumpul dan menjadi suatau dalam suatu wilayah, dengan demikian manusia harus dan mutlak berkerjasama dengan manusia lain, dan sebagai manusia makhluk yang mempunyai perasaan dan emosi memerlukan tanggapan emosional dari orang lain yang sangat penting artinya dalam kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia.

Tanggapan emosional itu hanya daoat diperoleh dalam hubungan dengan manusia lain dalam suatu masyarakat yang memungkinkan akan timbulnya suatu masalah atau problem dari yang enteng-enteng saja sampai dengan problem yang membuat kepala nyuttt … nyut… rasanya mau pecah…

B.     PENGERTIAN
      Masalah atau problem pada dasarnya adalah tantangan-tantangan yang timbul dalam proses dalam diri kita dalam mencapai suatu tujuan, secara ilmiah boleh saya katakana bahwa masalah berarti adanya jarak antara rencana dan pelaksanaan, antara harapan dan kenyataan.
      Sebagai seorang pemimpin kita pasti akan dihadapkan dengan hal-hal seperti itu, maka kita perlu dan harus mengerti, bagaimana cara mengatasi masalah ?

C.    PEMECAHAN MASALAH
Paling penting untuk dimengerti, sebagai seorang pemimpin harus paham benar sehingga tidak akan timbul perbedaan pendapat yang menimbulkan jurang pemisah. Kalau hal ini terjadi, wahh gawat benar.. maka orang jawa bilang “ ono rembug ayo podo dirembug, ojoo digawe bengkerengan”

Agar diri kita berfikir secara dinamis, maka dalam menghadapi suatu problem kita harus dapat bertanya pada diri kita sendiri, antara lain :
a.       Apa masalah itu muncul ?
b.      Kapan masalah itu muncul ?
c.       Dimana masalah itu muncul ?
d.      Siapa yang menyebabkann ? dan siapa pula yang kena akibatnya ?
e.       Engapa masalah itu dapat terjadi ?
f.       Bagaimana masalah itu dapat timbul ?

D.    PENDEKATAN PROBLEMA
Jika suatu hari kita mempunyai masalah, dalam bentuk benak kita pasti akan timbul pemikiran, bagaimana cara mencari jalan keluar dan jawabannya pasti akan bermacam-macam.
a.       Achh pasrah saja, inikan namanya nasib
b.      Pergi ke dukun, untuk apa susah-susah
c.       Dipikir secara rasional dong, kalalu perlu minta bantuan teman
d.      Dengan metode ilmiah

E.     DENGAN AKAL SEHAT
a.       Keputusan diambil dalam waktu relatif singkat
b.      Keputusan diambil dalam waktu yang relatif singkat
c.       Keputusan harus relevan

F.     METODE ILMIAH
a.       Inventaris data
b.      Klasifikasi data
c.       Analisa data
d.      Interpretasi hasil analisa, alternatif pemecahan
e.       Kesimpulan, keputusan alternatif

G.    CATATAN PENTING
a.       Setiap pengambilan keputusan pasti ada resikonya
b.      Usahaka dengan resiko yang palling kecil dalam mengambil keputusan
c.       Dengan adanya resiko yang besar, dimungkinkan dapat menjadi masalah baru.[]



TEKNIK DISKUSI


A.    PENDAHULUAN
Dalam berorganisasi perlu adanya kesatuan langkah agar apa yang diprogramkan organisasi tersebut dapat tercapai. Perbedaan langkah sering disebabkan oleh adanya perpedaan pendapat, perbedaan pendapat adalah wajar. Namun tidaklah mustahil adanya penyatuan pendapat yang berbeda-beda tersebut. Kesatuan pendapat atau pemikiran akan mudah dicapai melalui proses penyatuan pendapat yang disebut denan diskusi ataupun dalam islam disebut musyawarah.

B.     PENGERTIAN DISKUSI
      Dilihat dari segi asal kata, diskusi berasal dari bahasa latin “ DISCUTION” yang artinya bertukar  pikiran. Jadi yang dimaksud diskusi adalah suatu proses pertukaran pikiran secara teratur dengan tujuan untuk keberhasilan suatu kebenaran.
      Pengertian diskusi di atas mengandung dua hal penting :
1.      Adanya pertukaran pikiran secara teratur. Artinya suatu pertukuran pikiran yang mengarah pada yang sehat.
2.      Diskusi akan menghasilkan kesamaan pendapat tentang suatu masalah yang dipecahkan.

C.    TUJUAN DISKUSI
      Menurut Howell dan Smith tujuan diskusi dilakukan untuk memecahkan berbagai masalah.

D.    TIPE DISKUSI
1.      Panel
      Diskusi panel merupakan sekelompok kecil peserta diskusi yang melakukan pembicaraan secara informal tentang sesuatu topik tertentu yang sebelumnya telah diselidiki dengan teliti oleh para peserta diskusi
2.      Simposium
Simposium adalah serangkaian presentasi yang disampaikan secara relatif singkat tetapi formal dan yang berkaitan dengan suatu tema pokok atau topik, sesudah presentasi formal, para anggota symposium diperkenankan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para hadirin atau mengadakan suatu panel diskusi di antara mereka sendiri.
3.      Polemik
      Polemik adalah bertukar pikiran lewat tulisan
4.      Sarasehan
Sarasehan adalah Bentuk bertukar pikiran model orang awan dengan lesehan ( duduk di atas tikar ) dengan sekedar snack dan membicarakan permasalahan sehari-hari.
5.      Seminar
      Yaitu diskusi yang dilakukan oleh cendikiawan untuk mendapatkan kata sepakat mengenai suatu masalah
6.      Konferensi
      Diskusi yang dilakukan wakil-wakil berbagai organisasi berkumpul untuk membicarakan masalah-masalah tertentu.
7.      Dialog
      Dialog adalah diskusi antara dua orang diminta untuk mendiskusikan suatu topik di depan hadirin.

E.     PERENCAAN DISKUSI
      Diskusi dapat diselenggarkaan dengan memperoleh hasil yang maksimal maka pelaksaannya perlu direncanakan dengan matang. Beberapa perencaan yang harus dilakukan ketika berdiskusi
1.      Pemilihan tema
      Tema atau permasalahan pokok yang akan dibahas hendaknya dipilih yang actual, berdimensi sosial dan problematic.
2.      Penetapan peserta
      Jumlah dan jenis peserta perlu dipikirkan masak-masak agar efektifitas dan efisiensi diskusi dapat tercapai. Peserta hendaknya orang yang berpikiran sehat, berjiwa sosial dan berpengetahuan luas
3.      Persiapan tata ruang
      Tata ruang yang ideal yaitu berbentuk lingkaran atau tapal kuda. Tata ruang seperti kelas dapat mengganggu jalannya diskusi

F.     PIHAK YANG BERDISKUSI
      Dalam berdiskusi melibatkan pihak-pihak sebagai berikut :
1.      Pimpinan Sidang ( Moderator )
      Tugas pokok moderator :
      - Menjelaskan masalah yang akan didiskusikann
      - Mengatur jalannya diskusi
      - Sebagai lalu lintas antar orang-orang yang berdiskusi
      - Penengah kalau terjadi konflik
      - Merumuskan hasil diskusi
2.      Sekretaris sidang ( notulis )
      Pembantu moderator dalam menjalankan tugasnya dan merekan dan atau menulis setiap pembicaraan.
3.      Peserta
      Yang mengikuti diskusi dan menyampaikan pandangan –pandangannya tentang permasalahan yang didiskusikan
4.      Peninjau
      Undangan yang hadiri dalam diskusi tanpa hak bicara kecuali bila diijinkan.


G.    PROSES DISKUSI
      Proses diskusi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.      Tahap pembukaan
      Dibuka oleh pimpinan sidang yang dilanjutkan dengan uraian singkat mengenai maksud dan tujuan diskusi, agar permasalahan menjadi jelas
2.      Tahap penafsiran
      Pada tahap ini digunakan untuk menafsirkan terhadap pokok-pokok masalah oleh masing-masing peserta. Misalnya ada peserta yang kurang jelas mengenai pokok-pokok bahasan. Pada tahapan ini dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
3.      Tahap Defensiasi
      Pada tahap ini semua peserta diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya tentang pemecahan masalah.
4.      Tahap Konfliks dan kompromi
      Tahap konfilks dan kompromi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara :
a.       Pendekatan  ( Approach ) baik secara resmi atau kekeluargaan ( lobbying )
b.      Apabila konfliks perbedaan pendapat dan kompromi tidak dapat ditempuh, maka voting adalah jalan yang terakhir untuk mengambil keputusan
5.      Tahap kebulatan
      Diskusi yang berhasil harus adanya kesepakatan bersama dalam setiap perdebatan sebagai akhir proses diskusi. []


ADMINISTRASI


A. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan ini telah menjadi kodrat bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan. Manusia tidak pernah berhenti dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan. Satu kebutuhan terpenuhi akan berusaha untuk mendapatkan kebutuhan lainnya.

Ada dua macam bentuk kebutuhan yaitu kebutuhan tunggal dan kebutuhan jamak. Konsep kebutuhan tunggal manusia hanya memiliki satu kebutuhan. Sedangkan kebutuhan jamak yang lebih dari satu kebutuhan selain materi orang masih butuh bermacam-macam kebutuhan seperti kepandaian, pergaulan, penghormatan, diakui ciptaannya, sehingga dapat dikatakan bahwa konsep kebutuhan jamak mengarah pada kebutuhan orang banyak.

Antara berbagai kebutuhan satu tadi pada umumnya saling bertautan satu sama lain. Misalnya kebutuhan makan pagi berkaitan dengan kebutuhan memperoleh kekuatan mengikuti pendidikan, kebutuhan mengikuti pendidikan berhubungan dengan kebutuhan memperoleh kepandaian, kebutuhan memperoleh kepandaian berhubungan dengan kebutuhan memperoleh pekerjaan, kebutuhan memperoleh pekerjaan berhubungan dengan kebutuhan untuk mengembangkan karier, kebutuhan mengembangkan karier untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan, dan kebutuhan akan kesejahteraan tentunya berkaitan dengan usaha  untuk memenuhi kebutuhan akan kebahagiaan hidup. Hal tersebut dapat terpenuhi dengan jalan penataan dan bekerjasama. Maka perlu dengan mengenal lebih dekat apa yang dimaksud dengan management administrasi.

B. PENGERTIAN ADMINISTRASI
Administrasi merupakan cakupan dari  istilah menata berasal dari bahasa Sansekerta “ Tatha “ atau bahasa  Jawa “ tata/nata” yang mengandung arti memimpin, mengurus, mengelola, mengatur, menertibkan, membuat kebijakan, merencanakan, memutuskan, mengarahkan, mamadukan, mengawasi, menyempurnakan dan lain-lain.

Administrasi adalah penataan kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerjasama unjtuk mencapai tujuan tertentu.

C. HUBUNGAN KEGIATAN ADMINISTRASI DAN KEGIATAN OPERSI
Kegiatan administrasi dengan kegiatan operasi dapat dibedakan, tetapi antara  keduanya tidak dapat dipisahkan, satu sama lain saling berkaitan. Tidak akan pernah terjadi kegiatan administrasi diselenggarakan tanpa adanya kegiatan operasi, demikian juga sebaliknya tidak akan pernah terjadi kegiatan operasi dilakukan tanpa disertai dengan administrasi.
Contoh : Suatu lembaga pendidikan disusun stuktur organisasi sekolah, diangkat kepala sekolah, guru dan karyawan, disusun kurikulum, dibangun ruang kelas lengkap dengan perabotnya, disusun jadwal pengajar, disusun anggarannya, alat peraga, dirinci tugas  para pegawai dll.

Dalam praktek kerja tanpak bahwa kegiatan administrasi akan berlangsung lebih awal daripada kegiatan operasi, kegiatan administrasi akan berlangsung bersama-sama kegiatan operasi, dan kegiatan administrasi akan berlangsung lebih akhir daripada kegiatan operasi.


Administrasi
 
 Skema berikut :


 








C. RUANG LINGKUP ADMINISTRASI
1. Ruang lingkup administrasi negara
2. Ruang lingkup administrasi perusahaan
3. Ruang lingkup administrasi sosial

D. HUBUNGAN ORGANISASI, ADMINISTRAI& MANAGEMENT
Bila kita berbcara mengenai “organiasasi” dan  “ management” maka kita tidak lepas diri satu topik lain yang sangat erat kaitannya yaitu yang disenbut dengan ”administrasi”. Ketiganya hanya dapat dibedakan secara akademis tapi secar praktis sukar dipisahkan karena saling mengisi dan saling melengkapi dan saling mencakup.
Hal itu diungkapkan oleh Dwight Waldo sebagai berikut :
“ Organisasi kita ibaratkan sebagai anatomi daripada administrasi sedangkan management sebagai physiologinya. Organisasi menunjukkan struktur daripada administrasi sedangkan menagement menunjukkan fungsinya. Keduanya saling bergantung tak dapat dipisahkan satu daripada yang lain sebagaimana halnya anatomi dan physiologi daripada setiap organisme hidup, adalah saling bergantungan dan tak dapat dipisahkan satu dari yang lain dalam satu ikatan yang jalin menjalin.”[]














MENYUSUN PROPOSAL

A. Pengertian Proposal
Proposal adalah rencana usulan yang dituangkan dalam bentuk rencana kerja

B. Tahapan-tahapan dalam membuat proposal kegiatan
1. Pendahuluan
Dalam menyusun proposal harus diawali dengan pendahuluan yang berisi secara singkat latar belakang kegiatan yang akan dilaksanakan

2. Dasar pelaksanaan
Sebutkan dasar kegiatan dengan jelas kegiatan tersebut. Dasar-dasar kegiatan dapat berupa PD dan PRT IPNU, SK, Intruksi, hasil rapat, hasil evaluasi dan atau penelitian

3. Nama kegiatan
Cantumkan nama kegiatan yang akan diselengggarkan dengan singkat dan jelas serta mudah dimengerti.

3. Tema
Tema merupakan bagian terpenting dalam proposal kegiatan, menentukan tema harus sesuai dengan target dan tujuan yang diharapkan yang dirangkum dalam bahasa yang baik.

5. Tujuan
Tujuan kegiatan dapat disusun berdasarkan latar belakang dan pertanyaan 5 W 1 H

6. Waktu pelaksanaan
Waktu kegiatan meliputi :
- Hari. tanggal
- Waktu
- Tempat

7. Peserta
Sebutkan asal peserta, jumlah peserta, criteria peserta, syarat peserta.

8. Macam atau bentuk kegiatan
Uraikan bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan dengan sistematis

9. Penyelenggara kegiatan
Unsure panitia terdiri dari penanggung jawab, SC  ( steering committee ) dan OC ( organizing committe ), seksi-seksi panitian sesuai dengan kebutuhan.

10. Anggaran kegiatan
Sesuai dengan seksi kegiatan

11. Penutup
disertai dengan permintaan kepada yang berwewenang untuk memberikan persetujuan dan dukungan sepenuhnya.

C. Ketentuan membuat proposal
1.      menggunakan kertas A4
2.        ukuran
3.        dijilid atau dimasukkan dalam amplop
4.        disertai surat permohonan ( disertai kontak komuniksai )







DAFTAR PUSTAKA

Pimpinan Pusat IPNU, PD dan PRT IPNU 2010, Jakarta, 2010.

Pimpinan Wilayah IPNU, Demi IPNU, lembaga pers dan jurnalistik PW. IPNU Jateng, Semarang, 2010.

Sutarto, Drs.  Dasar-dsar Kepemimpinan Administrasi, Gadjah Mada University Perss, ketakan ke-3, Yogyalarta, 1991.

I. Indrawijaya Adam, Drs., MPA. Perubahan & Pengembangan Organisasi, Penerbit Sinar Baru, Bandung, 1983.

H. Rosyidi Ero, Drs. Organisasi dan Magagement, Alumni, Bandung, 1982.


Waldo Dwight, The Study of Public Administrasi, terejmahan Drs. Slamet W. admosoedarmo, pengantar Public Administrasi, Tjemerlang, 1071

Kumpulan makalah LPK ( latihan Pendidikan Kepramukaan)



0 komentar:

Poskan Komentar